HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun C arrow KHOTBAH PASKAH, MINGGU 4 APRIL 2010
KHOTBAH PASKAH, MINGGU 4 APRIL 2010 PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 24 March 2010

Renungan Paskah, 4 April 2010
Tahun C: Hari Raya Paskah
Warna: Ungu

KEBANGKITAN KRISTUS MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH
Kis. 10:34-43; Mzm. 118:1-2, 14-24; I Kor. 15:19-26; Yoh. 20:1-18

 

Pengantar
 Setiap umat percaya sepakat bahwa hari raya Paskah merupakan hari raya yang teragung dalam seluruh kalender hari raya gerejawi. Karena hari raya Paskah memiliki makna yang sangat berarti dan menentukan dalam kehidupan umat percaya. Di satu pihak hari Paskah dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir. Yang diawali dengan tindakan Allah yang membunuh semua anak sulung bangsa Mesir, sedangkan rumah umat Israel luput dari kematian. Sebab setiap pintu rumah umat Israel dibubuhi darah hewan kurban sehingga Allah melewati (Ibr. “pesach”).

Sehingga dalam peristiwa Paskah mengandung keselamatan. Itu sebabnya di  setiap rumah umat Israel mengadakan perjamuan Paskah, yaitu makan “korban Paskah” atau anak domba yang disembelih (Kel. 12:21-22). Di lain pihak perayaan hari Paskah dalam Perjanjian Baru menunjuk kepada Kristus yang telah wafat sebagai anak domba Paskah (I Kor. 5:7) yang telah bangkit dari kematian. Tepatnya pada hari Paskah, Tuhan Yesus mampu melewati (“pesach”) realitas kematian dengan penuh kemenangan. Dengan demikian inti dari Paskah sangat jelas menunjuk kepada makna mampu “melewati” realitas kematian dengan penuh kemenangan.  Sehingga manifestasi dari Paskah adalah suasana sukacita yang diungkapkan dengan perjamuan Paskah dan secara spesifik dinyatakan melalui perayaan akan kebangkitan Kristus.

Perjamuan Kudus Di Jumat Agung Ataukah Paskah?
Selama ini gereja-gereja Tuhan melaksanakan perjamuan kudus pada hari Jumat Agung. Tampaknya sangat jarang gereja-gereja Tuhan kecuali Gereja Roma Katolik melaksanakan sakramen Perjamuan Kudus pada hari Paskah. Padahal pilihan atau keputusan gereja-gereja Tuhan di Indonesia yang melaksanakan sakramen Perjamuan Kudus pada hari Jumat Agung tanpa disadari telah dipengaruhi oleh sikap rasionalisme. Yang mana dalam sikap rasionalisme lebih mudah bagi para  anggota jemaat untuk menerima peristiwa kematian dibandingkan peristiwa kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Bukankah kita lebih mudah untuk menerima secara rasional peristiwa kematian dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan kita harus mendengar suatu berita tentang kebangkitan dari antara orang mati.  Itu sebabnya anggota jemaat kemudian tanpa disadari lebih menekankan perayaan peristiwa kematian Kristus pada hari Jumat Agung. Penekanan makna perayaan ibadah pada hari Jumat Agung tersebut  kemudian dilengkapi dengan sakramen Perjamuan Kudus. Tepatnya pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus pada hari Jumat Agung dianggap paling sesuai atau afdol dibandingkan jika dilaksanakan pada hari Paskah. Padahal bagaimana mungkin suatu peristiwa kematian Kristus pada hari Jumat Agung dalam suasana dukacita dapat digabungkan dengan sakramen Perjamuan Kudus yang secara esensial lebih dihayati sebagai suatu peristiwa sukacita. Pemahaman tersebut  akan terasa janggal bahwa kita menghayati peristiwa kematian Kristus dengan suasana gembira. Atau justru yang sebaliknya! Pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus pada hari Jumat Agung malah dihayati dengan penuh kesedihan dan kesuraman. Sehingga saat umat menyambut roti dan air anggur sebagai sakramen perjamuan kudus, mereka tidak menyambutnya dengan hati yang sukacita, tetapi sebaliknya dengan hati yang berdukacita.  Dengan demikian, bukankah seharusnya sakramen Perjamuan Kudus lebih sesuai jika dilaksanakan pada hari Paskah. Karena pada  hari Paskah, umat Allah makan perjamuan Paskah dengan sukacita setelah Allah menyelamatkan mereka dengan “melewati” dari bahaya maut.  

                Namun karena tradisi pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus telah begitu berakar dalam kehidupan umat, maka tidaklah bijaksana jika kita selaku gereja tiba-tiba menyingkirkannya. Tradisi pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus pada hari Jumat Agung tetap dapat dipertahankan dengan pemahaman bahwa umat diajak untuk menghayati makna penderitaan dan kematian Kristus secara benar. Pemberian sakramen perjamuan kudus kepada umat berupa roti dan air anggur yang melambangkan tubuh dan darah Kristus harus disambut dengan ucapan syukur dan sukacita sebab karya keselamatan dan penebusan Allah di dalam Kristus telah dianugerahkan bagi umat manusia. Dengan demikian umat diajak untuk tidak  terjebak dalam sikap melankolis dan pesimisme, tetapi sebaliknya setiap umat dimotivasi untuk mampu bersikap positif terhadap karya keselamatan Allah. Selain itu agar makna perjamuan Paskah menjadi lebih benar secara teologis, maka di samping gereja melaksanakan sakramen Perjamuan Kudus pada hari Jumat Agung, gereja juga harus melaksanakan sakramen Perjamuan Kudus pada hari raya Paskah. Dengan pengertian bahwa pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus pada hari Paskah bukanlah sekedar suatu pelengkap (suplemen), tetapi sebaliknya sebagai suatu perayaan inti. Hakikat perayaan hari raya Paskah senantiasa wajib dirayakan dengan sakramen Perjamuan Kudus. Karena melalui ibadah pada hari Paskah selaku umat Tuhan kita diperkenankan untuk menyambut kemenangan Kristus dengan sakramen Perjamuan Kudus. Sebaliknya suatu perayaan atau ibadah hari Jumat Agung tidak diwajibkan untuk dilaksanakan sakramen Perjamuan Kudus. Karena ibadah Jumat Agung pada hakikatnya lebih menekankan pengenangan reflektif terhadap penderitaan dan kematian Kristus di atas kayu salib. Dengan demikian pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus pada hari Jumat Agung bersifat fakultatif. Lebih baik lagi jika sakramen Perjamuan Kudus dalam konteks ini dilaksanakan pada hari Kamis Putih.

Meruntuhkan Tembok Kematian
Sukacita Paskah menjadi berbeda dengan sukacita yang lain, karena sukacita Paskah berkaitan dengan kuasa Allah yang memampukan umat Israel di Perjanjian Lama khususnya Kristus melewati realitas kematian. Bukankah realitas kematian merupakan realitas yang paling destruktif dan eksistensial dibandingkan dengan realitas bahaya yang lain? Kematian merupakan puncak atau titik kulminasi dari seluruh ketiadaan hidup manusia. Sehingga peristiwa kematian merupakan akhir dari totalitas keberadaan hidup manusia. Sebagai suatu akhir dari totalitas keberadaan hidup manusia, maka peristiwa kematian memisahkan secara eksistensial dengan sesama atau orang-orang yang masih hidup. Dalam hal ini peristiwa  kematian merupakan tembok pemisah yang tidak mungkin dapat dilompati atau diterobos oleh siapapun juga. Tembok kematian menempatkan manusia dalam kefanaannya sehingga segala semaraknya hilang lenyap. Karena tembok kematian tidak dapat dilewati dengan cara apapun, maka yang hanya dapat dilakukan oleh manusia adalah meratapi dan menangisinya dengan sikap dukacita. Jadi tanpa peristiwa Paskah, maka yang dihadapi oleh manusia hanyalah kesedihan dan penderitaan. Tanpa peristiwa Paskah, manusia kehilangan pengharapan akan keberlangsungan kehidupan atau eksistensinya. Jika demikian, peristiwa Paskah dalam kebangkitan Kristus menjadi suatu pintu yang menembus kepada suatu realitas yang lebih kekal, sehingga manusia dapat melewati ketiadaan eksistensinya menuju realitas keselamatan ilahi. Peristiwa Paskah merupakan peristiwa robohnya tembok kematian yang memisahkan kehidupan kekal yang disediakan Allah dengan ketiadaan hidup manusia. Sehingga sangatlah tepat suatu doksologi dinyanyikan oleh rasul Paulus di I Kor. 15:54b-57, yang berkata: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”. Peristiwa Paskah telah menempatkan kuasa maut dan kematian bukan lagi sebagai sesuatu yang membinasakan dan tanpa pengharapan. Sebab dalam peristiwa Paskah, yakni melalui kebangkitan Kristus telah menjadi nyata kemenangan Kristus atas kuasa maut. Dengan perkataan lain dalam kemenangan Kristus tersebut kini tersedialah pengharapan dan jaminan keselamatan yang pasti.

                Namun bukankah peristiwa Paskah dalam kebangkitan Kristus yang mengalami kebangkitan hanyalah Yesus dari Nazaret, dan bukan kita selaku umatNya? Apa hubungannya antara kemenangan Kristus dari kuasa maut dengan kehidupan kita? Seandainya Kristus tidak berinkarnasi menjadi manusia secara penuh, maka peristiwa kebangkitan Kristus hanyalah  menjadi suatu peristiwa kebangkitan yang sifatnya personal belaka. Namun karena inkarnasi Kristus merupakan misi utama Allah sehingga Dia berkenan menjadi manusia, maka segala hal yang terjadi pada diriNya merupakan bagian yang integral dengan seluruh dimensi kehidupan manusia. Kematian Kristus bukan dipahami hanya sekedar suatu peristiwa historis, tetapi juga menjadi peristiwa teologis. Dengan demikian kebangkitan Kristus menjadi jaminan keselamatan bagi umat percaya. Karena melalui sikap iman kepada Kristus, kita telah dipersekutukan dengan Dia, yaitu di dalam kematian dan kebangkitanNya. Dengan perkataan lain, kematian dan kebangkitan Kristus juga menjadi peristiwa hidup kita. Sehingga sebagaimana Kristus mampu menerobos atau melewati realitas kematian dengan kebangkitanNya, maka kita di dalam iman kepadaNya juga dimampukan untuk menerobos realitas kematian dengan tubuh kebangkitan yang dianugerahkan Kristus. Itu sebabnya kematian yang akan kita alami tidak akan membawa kita kepada kebinasaan oleh kuat maut, tetapi sebaliknya akan membawa kita kepada realitas tubuh kebangkitan dan keselamatan kekal.

Meruntuhkan Tembok Kesedihan
Saat Maria Magdalena pergi ke kubur Yesus, dia menjumpai bahwa kubur Yesus telah kosong dan batu penutupnya telah terguling. Karena itu dia pergi kembali untuk memberitahu Petrus dan seorang murid yang lain, sepertinya Yohanes. Ketika Petrus dan seorang murid yang lain sampai di makam Yesus, mereka menjumpai “Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung” (Yoh. 20:6-7). Setelah menyaksikan peristiwa itu mereka berdua kembali pulang dengan  sikap percaya bahwa Yesus telah bangkit melewati kematian. Namun Maria Magdalena tetap tinggal seorang diri di depan makam. Sebab Maria Magdalena tetap menganggap bahwa jenasah Yesus telah dicuri. Itu sebabnya dia berdukacita dan menangis dengan sedihnya. Di tengah-tengah kesedihan Maria Magdalena, datanglah Yesus menemui dia. Tetapi karena Maria Magdalena masih larut dalam kesedihan dan air matanya dia sama sekali tidak mengenali diri Yesus yang berada di dekatnya. Bahkan juga Maria Magdalena tidak mengenali suara Yesus saat Yesus bertanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" (Yoh. 20:15). Sebab Maria Magdalena menduga bahwa pria yang sedang berbicara kepadanya adalah seorang penunggu taman yang telah mencuri jenasah Yesus. Itu sebabnya Maria Magdalena kemudian berkata: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya" (Yoh. 20:15). Maria Magdalena menjadi sadar bahwa Dia adalah Yesus yang bangkit, setelah Tuhan Yesus memanggil namanya.

                Kehadiran Tuhan sering tidak dapat kita kenali dengan baik saat kita sedang larut dalam kesedihan dan dukacita. Seperti sikap Maria Magdalena yang tidak mengenali jati-diri Yesus yang telah bangkit dari kematian. Maria Magdalena bersedih hati  karena dia merasa kehilangan dengan kematian Yesus.  Demikian pula sikap kita yang sering tidak mampu mengenali kehadiran Allah di tengah-tengah kesedihan dan sikap putus-asa kita khususnya saat kita merasa kehilangan sesuatu yang begitu berharga. Hati kita sangat sulit dihibur ketika kita kehilangan orang-orang yang kita cintai, atau harta benda yang telah lama kita kumpulkan dengan susah payah. Saat itu kita merasa langit kehidupan kita telah runtuh.  Sehingga kita tidak lagi mampu melihat harapan dan masa depan.  Dalam situasi yang demikian, umumnya setiap kita tidak lagi peka akan kehadiran orang-orang di sekitar kita. Sebab kita telah terpenjara dalam kesedihan dan rasa putus-asa. Apabila kita tidak lagi peka atau mampu berinteraksi secara personal dengan orang-orang di sekitar kita, maka kita juga tidak akan mampu berinteraksi dengan Allah yang tidak kita lihat. Apapun penyataan dan kehadiran Allah di tengah-tengah hidup kita akan tetap kita anggap Allah tidak hadir atau “Tuhan yang absen”. Kesedihan dan sikap putus-asa telah mengurung diri kita dalam perspektif Allah yang absen. Padahal pada hakikatnya Allah tidak pernah absen dalam realitas kehidupan kita. Allah senantiasa maha-hadir (omnipresent). Bahkan lebih khusus lagi di dalam Kristus, Allah telah solider dengan setiap penderitaan, kesedihan, sakit dan tragedi umat manusia. Sehingga realitas penderitaan bukan merupakan kenyataan yang jauh dari kehadiran Allah. Sebaliknya dalam setiap penderitaan orang yang benar, di situlah Allah berkenan menghadirkan diriNya. Secara faktual orang benar dapat menderita dengan penderitaan yang sangat hebat, namun pada saat itulah secara spiritual Allah mencurahkan rahmat dan penyertaanNya. Kondisi inilah yang tidak dapat dialami oleh orang-orang yang membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Sebab hati, pikiran dan perasaan mereka hanya tertuju kepada diri mereka sendiri. Sehingga mereka tidak mampu melihat realitas hidup yang lebih utuh dan luas di mana Allah berkenan menghadirkan diriNya dalam kehidupan umatNya. Peristiwa Paskah dinyatakan dengan panggilan Kristus secara personal kepada Maria Magdalena, sehingga Maria Magdalena tercelik hatinya melihat kehadiran Kristus yang telah bangkit. Secara spontan Maria Magdalena kemudian memegang dan memeluk Yesus.

Meruntuhkan Tembok Egoisme Diri
Ketika Maria Magdalena berupaya memegang dan memeluk Tuhan Yesus, dengan segera Kristus berkata: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu" (Yoh. 20:17). Perkataan Tuhan Yesus tersebut menimbulkan kebingungan bagi banyak orang. Sebab kepada Tomas yang tidak percaya,  Tuhan Yesus justru berkata: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah" (Yoh. 20:27). Tuhan Yesus justru menyuruh Tomas untuk memegang bekas luka-luka di tubuhNya.  Demikian pula di Injil Lukas menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus menyuruh para muridNya untuk menyentuh tubuhNya agar mereka percaya, dengan berkata: “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku" (Luk. 24:39). Tuhan Yesus menyuruh para muridNya meraba tubuhNya untuk meyakinkan bahwa tubuh kebangkitanNya tidaklah identik dengan hantu. Karena yang dimaksud dengan hantu adalah roh yang tidak memiliki daging dan tulang. Jika demikian, mengapa Tuhan Yesus melarang Maria Magdalena untuk menyentuh tubuhNya? Tentunya bukan karena Maria Magdalena seorang wanita yang bukan isteriNya, sehingga dianggap sentuhannya dapat menghalangi Tuhan Yesus untuk kembali kepada Allah BapaNya.  Teks Yunani dari Yoh. 20:17 di mana Tuhan Yesus berkata:  "Janganlah engkau memegang Aku” menggunakan bentuk “present imperative”. Sehingga makna “"Janganlah engkau memegang Aku” harus dipahami sebagai suatu perintah agar Maria Magdalena tidak berupaya untuk terus memegang dan memeluk diriNya. Perasaan kehilangan dapat mendorong seseorang untuk terus memegang atau memeluk orang yang dikasihinya agar tidak pernah terlepas lagi. Dengan demikian perkataan Tuhan Yesus yang menyatakan agar Maria Magdalena tidak terus memegang diriNya adalah suatu teguran agar dia tidak menjadi pribadi yang egoistis dan posesif.

                Dalam kehidupan sehari-hari betapa sering umat percaya memiliki kecenderungan yang sangat egoistis dan posesif kepada Tuhan. Mereka berupaya untuk terus memegang Tuhan erat-erat agar tidak dapat terlepas dari genggamannya. Tepatnya mereka tidak menginginkan Tuhan menjadi milik umat yang lain. Karena itu mereka akan berupaya menjaga dan mempertahankan agar Tuhan tetap dalam genggaman tangannya. Tanpa mereka sadari, Tuhan telah mereka perlakukan seperti seekor hewan peliharaan yang tugas utamanya adalah menghibur dan menyenangkan hati tuannya. Untuk itu mereka memasang tali pengikat atau sarang yang mengurung hewan peliharaannya agar tidak pernah dapat terlepas. Karena itu  teguran Tuhan Yesus kepada Maria Magdalena kemudian diikuti dengan suatu tugas pengutusan, yaitu: “tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu" (Yoh. 20:17). Kristus yang bangkit pada satu pihak berkenan menyatakan diriNya kepada Maria Magdalena, tetapi pada pihak yang lain Kristus yang bangkit mengutus Maria Magdalena untuk menjadi saksi kebangkitanNya. Demikian pula halnya dengan diri kita. Pemilihan Kristus kepada kita bukanlah bertujuan agar kita memegang erat-erat dan menguasai diriNya. Tetapi sebaliknya pemilihan Kristus kepada kita adalah agar kita bersedia menjadi para saksi kebangkitanNya. Untuk itu kita harus mampu menanggalkan semua sikap egoisme dan posesif terhadap Kristus. Karena Kristus yang bangkit dan mulia adalah Kristus yang menjadi milik dan Juru-selamat setiap umat manusia. Jadi peristiwa Paskah yaitu kebangkitan Kristus bertujuan untuk meruntuhkan semua tembok egoisme dan sikap posesif. Bukankah setiap sikap egoisme dan posesif sering disimbolkan dengan tangan yang menggenggam atau terkepal? Sebaliknya dalam peristiwa Paskah, Tuhan Yesus mengulurkan tanganNya yang terluka dan telapak tanganNya yang terbuka lebar sebagai simbol sikap hidup yang selalu memberi.

Meruntuhkan Tembok Ketakutan
Arti perkataan Tuhan Yesus kepada Maria Magdalena, "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu" (Yoh. 20:17) pada satu pihak dapat berarti suatu teguran agar Maria Magdalena tidak bersikap egoistis dan posesif, tetapi juga dapat berarti: “jangan takut”. Karena teks Yunani dari Yoh. 20:17 dapat dibaca dengan 2 arti, yaitu:

-          me aptou yang berarti: “Jangan memegang Aku”

-          me ptoou yang berarti: “Jangan takut” (dari kata kerja “ptoein” yang berarti: “gentar, gemetar karena rasa takut”).

                Bila kita mengikuti salinan “me ptoou”, maka seharusnya Yoh. 20:17 kita baca: "Janganlah takut, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu" (Yoh. 20:17). Yang mana bentuk ucapan Tuhan Yesus tersebut merupakan pola yang lazim dan menjadi ciri khas khasNya. Bandingkan dengan perkataan Tuhan Yesus di Mat.  28:10, yaitu: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku" (Mat. 28:10). Bukankah perkataan Tuhan Yesus di Yoh. 20:17 paralel dengan Mat. 28:10?  Bilamana kita menggunakan makna “Janganlah takut” di Yoh. 20:17, maka perkataan Tuhan Yesus kepada Maria Magdalena hendak menegaskan bahwa peristiwa kebangkitanNya bukanlah suatu manifestasi dari sosok hantu yang arwahnya sedang bergentayangan. Sebaliknya peristiwa kebangkitan Kristus merupakan awal dari era yang baru, di mana umat percaya akan dipenuhi oleh kehadiranNya yang transformatif dan memperoleh karunia pembaharuan hidup yang menyeluruh.  

Meruntuhkan Tembok Eksklusivisme Dan Superioritas
Peristiwa kebangkitan Kristus tidak hanya tertuju kepada umat Yahudi dalam hal ini para murid Yesus dan gereja perdana di Yerusalem. Tetapi peristiwa kebangkitan Kristus juga menjangkau umat yang bukan Yahudi. Melalui peran Kornelius seorang perwira pasukan Italia, Allah berkenan memilih dia untuk mengenal Kristus yang telah bangkit dan menjadi saksiNya.  Kornelius akhirnya dapat berjumpa dengan Petrus yang sebelumnya telah menerima penyataan dari Allah untuk makan beberapa jenis binatang yang dianggap haram. Ternyata penyataan Allah kepada Petrus tersebut merupakan suatu simbol bahwa melalui karya penebusan dan kebangkitan Kristus, Allah tidak lagi memandang umat di luar Israel sebagai bangsa  yang ditolak. Sebaliknya melalui karya penebusan dan kebangkitan Kristus, Allah berkenan menjadikan setiap umat manusia untuk menjadi milik kepunyaanNya. Sehingga di Kis. 10:35-36, rasul Petrus berkata: “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.  Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang”. Keselamatan Allah di dalam Kristus tidak lagi eksklusif kepada suatu umat, yaitu umat Yahudi; tetapi telah berubah menjadi inklusif kepada seluruh umat manusia.  Dengan demikian peristiwa Paskah dalam kebangkitan Kristus telah meruntuhkan tembok eksklusivisme atau superioritas suatu umat terhadap umat yang lain. Peristiwa Paskah telah menempatkan setiap umat untuk menghargai sesamanya tanpa perbedaan tingkat. Dengan demikian peristiwa Paskah pada hakikatnya telah meniadakan setiap bentuk diskriminasi karena perbedaan etnis, ras, tingkat sosial, budaya dan agama. Peristiwa kebangkitan Kristus telah menempatkan manusia untuk menghayati makna kesetaraan, emansipasi, solidaritas dan kasih secara penuh.

                Walaupun karya keselamatan Allah di dalam Kristus telah meruntuhkan setiap tembok eksklusivisme dan superioritas, namun umat manusia sepanjang sejarah tetap membiarkan dirinya diperalat oleh kuasa kegelapan. Sehingga umat manusia sering cenderung dan berjuang untuk mempertahankan perasaan unggul atau superioritasnya. Karena itu sikap yang merendahkan orang lain atau mengangkat diri lebih tinggi senantiasa hadir dalam berbagai aras dalam  kehidupan ini. Kita juga dapat melihat kecenderungan yang sangat kuat bagi beberapa orang untuk menciptakan sikap kultus individu kepada dirinya. Seakan-akan dirinya telah menjadi pusat penentu keberlangsungan suatu komunitas atau masyarakat.  Kalau dia tidak lagi berperan, maka hancurlah keberadaan komunitas atau masyarakat tersebut. Itu sebabnya dia berupaya menciptakan suatu fatamorgana (penglihatan palsu) bahwa dirinya begitu penting dan sangat menentukan kelangsungan hidup orang banyak. Dengan sikap demikian, dia berupaya dengan segala macam cara agar orang lain dan orang-orang yang dipimpinnya selalu tergantung mutlak kepada dirinya. Pola spiritualitas yang demikian  jelas tidak mencerminkan hakikat dari peristiwa Paskah. Karena peristiwa Paskah pada hakikatnya mengajak setiap umat untuk bergantung mutlak hanya kepada Allah.

Panggilan
Karya penebusan Kristus memang terjadi pada hari Jumat Agung. Namun peristiwa wafatNya Kristus akan menjadi tidak berarti bilamana tidak diikuti oleh peristiwa Paskah. Kematian Kristus menjadi peristiwa penebusan dosa umat manusia karena ditempatkan dalam terang kebangkitanNya. Karena itu gereja Kristus hadir  setelah peristiwa Paskah. Dengan  demikian inti spiritualitas Gereja Tuhan adalah kemenangan Kristus atas kuasa maut. Mungkin sikap gereja Tuhan tersebut bertentangan dengan rasionalisme orang-orang dunia. Karena orang-orang dunia menganggap kisah kebangkitan Kristus hanyalah sekedar omong kosong. Tetapi bagi umat percaya, kebangkitan Kristus merupakan suatu fakta yang menentukan seluruh keberlangsungan, makna dan tujuan hidup umat manusia. Di I Kor. 15:17-18, rasul Paulus berkata:  Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus”. Jadi melalui peristiwa kebangkitan Kristus, terbukalah suatu kepastian akan keselamatan Allah dan pengampunan dosa. Dasarnya karena melalui kebangkitan Kristus, selaku umat percaya kita dimampukan untuk menerobos atau melewati realitas tembok kematian, kesedihan, egoisme diri/sikap posesif, ketakutan dan eksklusivisme dengan penuh kemenangan.  

                Jika demikian, bagaimanakah sikap kita dalam memaknai dan merespon peristiwa kebangkitan Kristus? Apakah kita lebih cenderung hidup dalam kesuraman hidup sebagaimana yang dilakukan oleh Maria Magdalena, sehingga kita tidak mampu melihat kehadiran Kristus di tengah-tengah kita? Tanpa sikap iman yang tepat, kita akan selalu terjebak dalam tembok kesedihan, sikap egoisme, ketakutan dan sikap eksklusif karena merasa diri superior. Semua tembok tersebut merupakan belenggu yang mematikan diri kita untuk menyambut kuasa kemenangan Kristus atas maut. Sebaliknya dengan sikap iman kita akan dilengkapi dan diperbaharui oleh kuasa kebangkitan Kristus yang meruntuhkan setiap tembok penghalang. Bagaimanakah kini sikap saudara?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com

 

 

 

 

               

Last Updated ( Wednesday, 24 March 2010 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2471
mod_vvisit_counterYesterday2724
mod_vvisit_counterThis week13508
mod_vvisit_counterThis month59356
mod_vvisit_counterAll2969868

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2653 hits)
Firman Hidup 50   (2543 hits)
Firman Hidup 55   (2518 hits)
Cyber GKI   (2288 hits)
The Meaning of Worship   (2187 hits)
TextWeek   (1975 hits)
Contact YBM   (1937 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::