HOME arrow PENGAJARAN arrow Biblika arrow PENGENALAN DAN TAFSIR KITAB NABI HABAKUK
PENGENALAN DAN TAFSIR KITAB NABI HABAKUK PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Wednesday, 12 December 2007

Identitas nabi Habakuk
Menurut para ahli, nama nabi Habakuk bukanlah khas nama orang Ibrani. Beberapa rabbi Yahudi mengartikan nama “Habakuk” dari kata “chabak” yang berarti” memeluk (Inggris: “embrace”). Menurut tradisi tradisi Yahudi, nabi Habakuk berasal dari perempuan Sunem. Di II Raj. 4:16, nabi Elisa berkata kepada seorang perempuan Sunem : “Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki”. Martin Luther mengartikan nama “Habakuk” sebagai orang yang memeluk, dalam pengertian Habakuk memeluk umatnya untuk menghiburkan. Selain itu ada beberapa nabi yang mengartikan nama Habakuk berdasarkan perkataan nabi Yesaya, yaitu: “Pergilah, tempatkanlah seorang peninjau, apa yang dilihatnya haruslah diberitahukannya” (Yes. 21:6), sebab di Hab. 2:1, nabi Habakuk berkata: “Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankanNya kepadaku dan apa yang aku dijawabNya atas pengaduanku”. Menurut C.C. Torrey dalam “Lives of the Prophets”, Philadelphia, SBL 1946 mengartikan Habakuk sebagai seorang yang berasal dari suku Simeon dan hidup Beth Zekhariah (10 mil dari Yerusalem). Suatu manuskrip dari “Bel and the Dragon” berkata bahwa nabi Habakuk merupakan anak dari Yesus dari keturunan Lewi. Kalau kita melihat struktur kitab nabi Habakuk, maka terlihat bahwa kitab nabi Habakuk memiliki bentuk ritual-ibadah. Itu sebabnya nabi Habakuk digolongkan dengan nabi Kultis atau nabi liturgis. Kenyataan ini menguatkan dugaan bahwa nabi Habakuk berasal dari suku Lewi.

Waktu Penulisan
Di Hab. 1:6 disebut: “Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka”. Di sini disebutkan nama orang Kasdim. Dari catatan sejarah kita dapat melihat sekitar tahun 1000 sM suku bangsa Kasdim menduduki daerah-daerah Mesopotamia. Sejalan bangsa Asyur mulai menjadi lemah, bangsa Kasdim kemudian makin memegang peranan penting. Kejayaan bangsa Kasdim sampai pada puncaknya ketika diperintah oleh Nabopolasar dan Nebukadnezar, yang mana kemudian kerajaan Kasdim ini diganti menjadi kerajaan Babilonia Baru sekitar tahun 625 sM. Di bawah pimpinan Nabopolasar, kerajaan Babilonia Baru ini berhasil mengalahkan kerajaan Asyur pada tahun 625 sM. Akhirnya kerajaan Asyur dapat diruntuhkan dengan jatuhnya kota Niniwe ibu-kota kerajaan Asyur pada tahun 612 sM. Tak lama kemudian Mesir juga berhasil dikalahkan oleh raja Nebukadnezar dalam pertempuran di Karkhemis tahun 605 sM yang dipimpin oleh raja Nekho. Sejak saat itu bangsa Kasdim ini memperoleh kekuasaan mutlak di seluruh Timur Tengah. Jadi bangsa Yehuda waktu itu telah jatuh dan dikuasai oleh bangsa Kasdim.

Pemerintahan bangsa Yehuda sendiri pada waktu itu dipimpin oleh raja Yoyakim yang memerintah sekitar tahun 609-597 sM. Keadaan pemerintahan raja Yoyakim dapat dilihat di II Raj. 23:35 – 24:7, dan Yer. 22:13-19. Gambaran pemerintahan raja Yoyakim sangat buruk. Itu sebabnya di Yer. 22:13, nabi Yeremia berkata: “Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya kepadanya”. Jadi umat Israel waktu itu hidup dalam pemerintahan yang melakukan kelaliman, ketidakadilan, pemerasan dan penumpahan darah atas orang yang tidak bersalah. Perkiraan waktu penulisan kitab Habakuk adalah sekitar tahun 605-586 sM.
Tafsir:
 “ucapan ilahi” memiliki arti sebagai suatu “beban” (burden)àHab. 1:1  yang menunjuk pada firman yang diberitakan oleh nabi Habakuk merupakan firman yang berasal dari penyataan Allah. Tetapi pada sisi lain firman tersebut bagi nabi Habakuk merupakan suatu beban yang sangat berat, sebab nabi Habakuk harus menyampaikan hukuman atas segala bangsa, bahkan kepada setiap orang yang mengabaikan kehendak Allah.

 Keluhan tentang kekerasan orang-orang fasikàHab. 1:2-4 
Di ayat 2 - 4, muncul ratapan dari nabi Habakuk yang dimulai dengan pertanyaan, “Berapa lama lagi ya Tuhan”. Ungkapan dari nabi Habakuk tersebut menunjukkan bahwa dia telah sering bertanya dan memohon agar Allah bertindak, tetapi yang ia jumpai ternyata Allah tetap berdiam diri. Nabi Habakuk berseru kepada Tuhan, karena dia melihat ketidakadilan, penindasan dan kekerasan yang dilakukan kepada orang-orang benar. Dalam hal ini ada beberapa pendapat mengenai para pelaku kejahatan terhadap orang-orang benar, yaitu:
a. Bangsa Asyur yang menjajah dan memperlakukan umat secara kejam.
b. Sebagian umat Israel sendiri khususnya mereka yang berlaku tidak adil, yang mengeksploitasi sesama, dan yang melakukan penindasan serta berlaku kejam.

Dari kedua kemungkinan tersebut, justru kemungkinan yang kedua yaitu para pelaku kejahatan adalah sebagian umat Israel sebagai kemungkinan yang dimaksud. Walau tidak disangkal bahwa waktu bangsa Asyur pada waktu itu telah menimbulkan gangguan secara politis. Tetapi secara faktual dan langsung, sebagaian dari umat Israel telah menjadi penindas bagi sesamanya. Itu sebabnya beberapa kali dalam ayat 2-4 kita jumpai kata “penindasan, kejahatan, kelaliman, aniaya, kekeraan, perbantahan, pertikaian”, juga situasi waktu itu yang memutar-balikkan hukum dan keadilan. Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa orang-orang miskin, orang kecil, orang yang tidak berkuasa/lemah ditindas oleh orang-orang kaya dan berkuasa. Mereka tidak memiliki pembela dan pelindung dari tekanan orang-orang berkuasa . Itu sebabnya mereka berteriak minta tolong kepada Tuhan.

 Jawaban Tuhan Terhadap Keluhan HabakukàHab. 1:5-11 
Mulai dari ayat 5, kita dapat melihat bagaimana jawaban Tuhan atas keluhan atau ratapan nabi Habakuk. Dalam hal ini Tuhan mengajak nabi Habakuk dan umat yang ditindas untuk “melihat” dan memperhatikan segala yang terjadi di antara bangsa-bangsa. Allah mengajak nabi Habakuk untuk melihat karya Allah yang tersembunyi dari arena kekuatan politik yang terjadi pada waktu itu. Pertolongan Tuhan untuk orang-orang yang lemah dan yang ditindas adalah Allah mempunyai rencana akan membangkitkan orang-orang Kasdim sebagai alat di tanganNya untuk memukul dan menghukum para pelaku kejahatan itu.

Setelah bangsa Asyur dapat dikalahkan pada tahun 612 sM, maka Nabopolasar kemudian mendirikan kerajaan Babilonia Baru. Sejak itu bangsa Kasdim memiliki kekuasaan yang luar biasa. Apalagi Nebukadnezar, anak dari Nabopolasar berhasil mengalahkan Mesir pada tahun 605 sM di Karkhemis. Dalam hal ini Nebukadnezar makin memegang peranan yang menentukan selama pemerintahannya dari tahun 604-562. Kelak raja Nebukadnezar juga menguasai Yehuda dan Yerusalem. Di ayat 9 dinyatakan bahwa ciri khas dari bangsa Kasdim adalah untuk melakukan kekerasan dan mereka memiliki pasukan depan seperti “angin Timur” (bdk. Kej. 41:6,23,27; Yeh. 19:12). Selaku penakluk yang tangguh dan kuat, bangsa Kasdim tidak pernah takut menghadapi raja-raja yang berkuasa pada waktu itu.

 Keluhan mengapa Tuhan membiarkan kekerasan dari bangsa KasdimàHab. 1:12-17 
Bila Tuhan menggerakkan bangsa Kasdim untuk menjadi alatNya menghukum orang-orang lalim dan yang melakukan kekerasan, maka di ayat 12-17 nabi Habakuk bertanya dan mengeluh mengapa Tuhan memakai orang fasik untuk memukul umatNya walau umat itu telah berdosa kepadaNya. Di perikop ini nabi Habakuk memulai dengan suatu pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak pernah meninggalkan umatNya dan yang telah menguduskan umat Israel sebagai milik Allah. Tetapi karena dosa-dosanya, kini Allah telah menggerakan bangsa Kasdim, yang mana bangsa Kasdim bertindak bagaikan seorang pemancing ikan. Mereka menarik dengan kail, menangkap dengan pukat dan mengumpulkan dengan payang. Apabila dapat memperoleh hasil yang banyak, maka si pemancing makin bergembira (Yer. 16:16). Dengan kata lain, nabi Habakuk sebenarnya kurang puas dengan jawaban Tuhan. Dia mengalami krisis kepercayaan. Habakuk tidak dapat mengerti mengapa Allah memakai orang-orang fasik sebagai alat di tanganNya. Karena itu nabi Habakuk menunggu jawaban Tuhan.

 Jawaban TuhanàHab. 2:1-5 
Untuk memperoleh jawaban Tuhan, nabi Habakuk keluar dari rumahnya menuju suatu tembok kota Yerusalem. Di atas tembok itu Habakuk dapat melihat segala sesuatu yang terjadi di sekitar Yerusalem. Lalu Allah menyuruh nabi Habakuk untuk menuliskan penglihatan itu dan mengukirkan dengan jelas pada sebuah loh. Ini berarti segala yang difirmankan Tuhan bukan lagi ditujukan kepada nabi Habakuk, tetapi firman Tuhan itu ditujukan juga kepada setiap orang. Di ayat 3 dinyatakan bahwa penglihatan itu masih menanti saatnya. Artinya bahwa pastilah suatu saat firman Tuhan itu akan terealisasi. Namun juga membutuhkan suatu penantian, sehingga orang percaya harus menunggunya dengan sabar dan teguh dalam iman.

Apabila bangsa Kasdim bersikap “membusung” yang menunjuk sikap menyombongkan diri dan hidup yang tidak lurus hati (ayat 4), maka orang benar dipanggil untuk hidup menurut iman. Dalam realita hidup ini orang-orang benar selalu diperhadapkan dengan orang-orang sombong dan tidak lurus hatinya. Itu sebabnya ketika terjadi penindasan dan kekerasan, orang benar sering menjadi korban. Jadi bagaimanakah mereka dapat hidup hidup? Jawabnya adalah: “karena percayanya”. Jadi orang benar akan hidup karena mereka memiliki pengharapannya kepada Tuhan. Pada akhirnya kelak mereka akan memperoleh kemenangan atas orang-orang sombong dan tidak lurus hatinya. Dengan jawaban Tuhan ini, Allah mengajak nabi Habakuk untuk hidup menurut percaya/imannya walaupun kini dia belum melihat realisasi kemenangan orang benar.

 Nyanyian olok-olok mengenai orang yang berbuat jahatàHab. 2:6-20 
Ada 5 kali dipergunakan kata “celakalah”. Kata “celaka” sebenarnya berasal dari keluhan tentang orang mati. Kata “celaka” diterjemahkan dari kata “wai” (bdk. I Raj. 13:30) untuk menyatakan suatu keadaan yang dikuasai oleh kematian. Itu sebabnya kata “celaka” pada prinsipnya mengandung berita hukuman terhadap keadaan atau orang yang dimaksudkan dalam nubuat nabi. Pernyataan hukuman tersebut karena bangsa Kasdim telah memuati dirinya dengan barang gadaian. Mereka berpendapat bahwa semua bangsa yang ditaklukkan harus diperlakukan sebagai orang-orang yang berhutang. Nabi Habakuk menyatakan hukuman Allah bahwa kelak para penjarah dari bangsa Kasdim ini akan mendapat hukuman dan perlakuan yang sama. Perlakuan bangsa Kasdim juga terlihat dalam ayat 15-17, yaitu mereka memberi minum yang memabukkan kepada para lawannya untuk dipermalukan dan juga agar dapat dilihat ketelanjangannya.

Di perikop ini nama atau identitas penindas tidak disebut dengan jelas. Justru dengan tidak disebut identitas si penindas, maka berita hukuman dari nabi Habakuk ini memiliki daya aktualitasnya. Setiap penindas siapapun juga akan memperoleh hukuman dari Allah. Khususnya bila mereka menyangkal keberadaan Allah serta tidak menghargai kehidupan serta martabat manusia.
 Pendahuluan: Doa Nabi HabakukàHab. 3:1-2 
Diawali dengan perkataan “doa”. Bentuk semacam ini merupakan pola yang dipakai oleh kitab Mazmur. Doa umumnya diucapkan oleh orang-orang percaya di dalam kesukaran dan penderitaan. Karena itu dapat diterka bahwa doa nabi Habakuk pada prinsipnya mohon kelepasan atau pertolongan dari Tuhan. Karena itu dilanjutkan dengan pernyataan “syigyonoth” (menurut nada ratapan). Jadi doa tersebut dinyanykan dengan suatu nada ratapan yang sayangnya kini tidak kita kenal lagi.

Nabi Habakuk telah mendengar kabar tentang karya keselamatan yang telah dilakukan oleh Tuhan. Bagi nabi Habakuk karya keselamatan itu pada satu pihak untuk menegakkan keadilan dan kekudusanNya, tetapi pada pihak lain karya Tuhan tersebut menakutkan dia. Nabi Habakuk melihat kekuasaan dan kedaulatan Allah yang melampaui pikiran dan dugaan manusia. Dengan ungkapan “hidupkanlah” dan “nyatakanlah” menunjukkan harapan doa dari nabi Habakuk agar Tuhan berkenan segera merealisasikan janji-janjiNya.

 Penyataan AllahàHab. 3:3-15 
Perikop dari Hab. 3:3-15 melukiskan theophany (penyataan Allah) yang bukan hanya mengejutkan manusia, tetapi juga alam. Sehingga dalam doa nabi Habakuk dinyatakan: “dalam murka, ingatlah akan kasih-sayang” (ayat 2).

Arti “Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran” menunjuk ingatan kepada penyataan Allah di gunung Sinai. Sebagaimana Musa telah melihat penyataan Allah yang datang negeri Seir dan pegunungan Paran, maka demikian pula nabi Habakuk. Allah menyatakan diri dan datang untuk menjumpai umatNya. Di ayat 4 disebutkan Allah muncul dalam “kilauan seperti cahaya” mengingatkan umat Israel cahaya wajah Allah (bdk. Bil. 6:25). Karena itu Allah disebutkan sebagai bapa segala terang (Yak. 1:17). Di dalam terang itu disebutkan “terselubungkan kekuatanNya”. Sangat menarik di ayat 5 disebutkan bahwa yang mengiringi Allah adalah penyakit sampar dan api demam. Kedatangan Allah juga dinyatakan sebagai kedatangan yang membawa hukuman kepada orang-orang yang menentangNya (bdk. II Sam. 24:14-17). Kegentaran dan ketakutan bukan hanya dialami oleh manusia, tetapi juga alam berupa gunung-gunung dan bukit-bukit gemetar di hadapan Allah (ayat 7). Juga disebutkan sungai-sungai dan laut (ayat 8) ikut merasakan kemurkaan Allah. Kuasa sungai dan laut dipandang oleh umat Israel sebagai tempat kuasa khaostis dan kegelapan. Tetapi kini mereka tidak berdaya di hadapan Allah.

Kedatangan Allah dilukiskan sebagai seorang prajurit yang siap berperang dengan membawa busur dan anak-anak panah dalam jumlah yang cukup (ayat 9) untuk memusnahkan dan menghukum semua lawanNya. Anak panah dari Allah menyebabkan bumi menjadi terbelah menjadi sungai-sungai, juga menyebabkan angin ribut dan gempa bumi. Seluruh alam bereaksi ketakutan termasuk pula samudera raya, sehingga “air bah menderu dan samudera raya mendengarkan suaranya” (ayat 10). Kata Ibrani untuk samudera adalah “tehom” yang dipandang sebagai tempat dewa Tiamat dari myte Babilonia. Dewa Tiamat sebagai lambang dewa kegelapan berperang melawan dewa Marduk sebagai dewa kebaikan. Bahkan di ayat 11 disebutkan bahwa penyataan Allah menyebabkan matahari dan bulan menjadi diam/berhenti di tempatnya. Pada zaman itu matahari dan bulan dipahami sebagai para dewa yang berkuasa. Kini di hadapan Allah, mereka tidak dapat menunjukkan kekuasaannya.

Mulai ayat 12-15 menyaksikan tujuan dari penyataan Allah yang penuh kuasa itu, yaitu Allah datang untuk menyatakan hukuman atas bangsa-bangsa yang telah berlaku jahat; dan memberlakukan keselamatan atas orang-orang yang benar. Hukuman Allah tersebut dinyatakan dengan ungkapan “menggasak” bangsa-bangsa. Kata “menggasak” searti dengan: “menebah” yaitu tindakan dari para petani yang memukul dan menebah agar butir-butir padi tertinggal (Yes. 63:3b). Di ayat 13 menyaksikan rahasia penglihatan disingkapkan, yaitu Allah datang untuk menyelamatkan umatNya. Keselamatan ini haruslah dinantikan dan diharapkan oleh orang-orang percaya. Allah digambarkan “maju berjalan” seperti tentara yang maju berperang dan menyelamatkan orang-orang yang diurapi.

 Reaksi nabi HabakukàHab. 3:16-19 
Perikop Hab. 3:16-19 menggambarkan bagaimana reaksi nabi Habakuk setelah dia melihat seluruh karya keselamatan Allah yang maju berperang melawan para musuh-musuhNya dan membebaskan orang-orang yang diurapi yaitu umatNya. Di ayat 16, reaksi nabi Habakuk adalah: “Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami”. Walau penyataan Allah disebutkan dalam bentuk penglihatan (1:1; 2:2), namun tampaknya firman Allah tersebut disampaikan dalam bentuk kata-kata. Waktu dia mendengar kata-kata dari firman Allah, maka nabi Habakuk menjadi gemetar dan menggigillah bibirnya. Namun menarik, dia telah belajar bagaimana hidup sebagai orang benar dan beriman. Karena itu disebutkan “namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami”. Dia mampu bersikap tenang karena dia menyikapi seluruh peristiwa termasuk peristiwa yang dahsyat dengan pandangan mata orang beriman.

Di ayat 17 diawali dengan kata “sekalipun” yang menunjuk pada kesiapan iman menyikapi suatu realitas atau peristiwa yang sedang terjadi. Realita yang digambarkan adalah dalam bentuk negatif atau situasi yang pahit, yaitu:
- pohon ara tidak berbunga
- pohon anggur tidak berbuah
- hasil pohon zaitun mengecewakan
- ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan
- kambing domba terhalau dari kurungan
- tidak ada lagi lembu sapi dalam kandang

Dengan keadaan yang buruk dan menyedihkan itu seharusnya secara manusiawi seseorang dapat kehilangan semangat hidup dan dirundung oleh rasa putus-asa. Siapapun yang mengalami situasi itu pastilah merasa hidupnya telah hancur. Dia telah kehilangan segala harta miliknya dan kemampuan ekonomisnya. Namun di situlah letak beda sikap orang fasik dan orang beriman. Ketika orang fasik mengalami kemalangan, maka kemalangan itu mematikan dia. Mzm. 34:22 berkata: “Kemalangan akan mematikan orang fasik”. Tetapi sebaliknya orang benar juga dapat mengalami kemalangan. Tetapi bedanya adalah orang benar tetap teguh dalam kemalangan dan penderitaannya. Dia memiliki sandaran dan pegangan yang kokoh. Dia percaya bahwa Tuhan mampu melepaskan dia dari segala kemalangan yang dialaminya. Mzm. 34:20 berkata: “Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu”. Karena itu reaksi nabi Habakuk sebagai orang beriman adalah: “namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku” (Hab. 3:18-19). Di sini nabi Habakuk tetap dapat bersukacita di dalam Tuhan, walau dia dan bangsanya sedang menghadapi kepahitan, kesusahan, penderitaan dan kemalangan. Dia tidak kehilangan kekuatannya. Bahkan dia memiliki kemampuan dan kelincahan seperti kaki seekor rusa yang mampu menaiki bukit-bukit. Dalam hal ini nabi Habakuk telah mengalami dan membuktikan bahwa sikap iman dari orang benar sungguh-sungguh merupakan sikap yang menyelamatkan. Karena kekuatan orang beriman adalah bersumber kepada Allah sebagi penyelenggara jalannya sejarah dan kehidupan umat manusia.

 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2141
mod_vvisit_counterYesterday2314
mod_vvisit_counterThis week2141
mod_vvisit_counterThis month80754
mod_vvisit_counterAll2764493

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2613 hits)
Firman Hidup 50   (2503 hits)
Firman Hidup 55   (2471 hits)
Cyber GKI   (2252 hits)
The Meaning of Worship   (2123 hits)
TextWeek   (1953 hits)
Contact YBM   (1904 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::