HOME arrow KHOTBAH arrow Leksionari Tahun B arrow KHOTBAH MINGGU PENTAKOSTA (Versi II)
KHOTBAH MINGGU PENTAKOSTA (Versi II) PDF Print E-mail
Written by Yohanes B. M.   
Friday, 29 May 2009
Renungan Minggu, 31 Mei 2009
Tahun B: Hari Raya Pentakosta
Warna: Merah

ROH KUDUS ADALAH ROH PENGHIBUR
Kis. 2:1-21; Mzm. 104:24-34, 35b; Rom. 8:22-27; Yoh. 15:26-27, 16:4b-15


   Makna “Shavuot” dan Pentakosta
    Saat ini selaku gereja kita diperkenankan oleh Tuhan untuk  merayakan hari raya Pentakosta. Bagi umat Israel, hari raya  Pentakosta disebut dengan “Shavuot”. Perayaan hari raya Pentakosta tersebut dilaksanakan pada hari keenam di bulan Sivan yaitu sekitar akhir bulan Mei dan awal bulan Juni. Semula umat Israel merayakan hari raya Pentakosta untuk memperingati peristiwa turunnya Taurat yang diwahyukan oleh Allah kepada Musa di gunung Sinai. Kemudian Pentakosta dirayakan oleh umat Israel sebagai pengucapan syukur atas hasil panen gandum; yang mana pengucapan syukur tersebut dirayakan selama 7 minggu. Dengan demikian hari raya Shavuot atau Pentakosta merupakan kesempatan umat Israel untuk mempersembahkan persembahan sulungnya berupa gandum, roti dan buah-buahan di Bait Allah.

Tetapi apa arti yang utama bagi kehidupan kita selaku umat Kristen? Tentu kita akan menjawab bahwa hari Pentakosta untuk memperingati hari turunnya Roh Kudus bagi umat percaya. Sangat menarik bahwa ada hubungan pemaknaan yang sangat erat antara Pentakosta dalam Perjanjian Lama dengan Pentakosta dalam Perjanjian Baru. Karena dalam Pentakosta di Perjanjian Lama, umat Israel memperingati turunnya hukum Taurat. Allah mengaruniakan firmanNya dari sorga untuk umat pilihanNya. Sedang peristiwa Pentakosta di Perjanjian Baru, umat juga memperingati turunnya Roh Kudus sehingga melalui kehadiran dan karya Roh Kudus tersebut gereja Tuhan dapat lahir di atas bumi. Bukankah ada kesamaan antara peristiwa turunnya Roh Kudus dengan hukum Taurat? Sebab Roh Kudus diimani oleh umat percaya sebagai oknum Allah yang memberi inspirasi penulisan Alkitab. Roh Kudus yang bertindak untuk memberi ilham, wahyu dan penyataan sehingga para penulis Alkitab dapat menuliskan firman Tuhan. Karya Roh Kudus dalam penulisan Alkitab disebut sebagai “Spiritu Sancto dictante” (pendiktean Roh Kudus). Karena itu respon umat percaya sama seperti umat Israel saat mereka menyambut peristiwa Pentakosta, yaitu mengucap syukur.

Tanda-Tanda Kehadiran Roh Kudus
    Memang peristiwa Pentakosta layak kita respon dengan ucapan syukur. Sebab di tengah-tengah kekelaman dan pergumulan hidup yang sangat keras, Allah berkenan campur-tangan dengan mengutus Roh Kudus untuk menolong dan menghibur kita. Yang mana dalam peristiwa Pentakosta terdapat 3 tanda untuk menunjuk kehadiran Roh Kudus, yaitu: angin yang besar, lidah-lidah seperti api dan karunia untuk menyampaikan firman Tuhan dalam berbagai bahasa. Tanda atau lambang “angin” dipakai untuk menunjuk  kehadiran kuasa  kreatif Allah yang menghidupkan. Ketika Allah selesai membentuk manusia dari tanah, Dia segera meniupkan nafas atau anginNya sehingga manusia dapat menjadi mahluk yang hidup. Itu sebabnya di Yeh. 37 menyaksikan Allah membangkitkan tulang-tulang kering dengan memberi nafas hidup. Tanda “api” dipakai untuk  menunjuk tindakan pengudusan atau pemurnian. Api Tuhan akan membakar setiap orang yang fasik. Ibr 12:29 berkata: “Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan”. Perhatikan pula kitab Ul 4:24 berkata: ”Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu”.  Roh Kudus hadir untuk menyucikan hati umat yang najis oleh kuasa dosa.  Sedangkan karunia khusus lain yang terjadi pada hari Pentakosta adalah Allah memampukan para rasul Yesus untuk memberitakan firman Tuhan dalam berbagai bahasa. Kitab Kisah Para Rasul menyaksikan dalam peristiwa Pentakosta, Allah memampukan para murid Yesus untuk berbicara dalam berbagai bahasa dan dialek manusia. Karena itu penulis kitab Kisah Para Rasul  dengan sengaja memerinci berbagai orang dengan latar-belakang budaya dan bahasa yang berbeda: Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab (Kis. 2:9-11).  Jadi terdapat sekitar 15 budaya dan bahasa yang mampu dicerna oleh orang-orang yang saat itu mendengar firman Tuhan yang disampaikan oleh para rasul.

Roh Kudus Bekerja Melalui Bahasa

Peristiwa Pentakosta pada hakikatnya menciptakan era yang baru, yaitu karya penciptaan yang baru di mana umat manusia yang semula terserak karena perbedaan bahasa yang telah dimulai dalam peristiwa Babel (Kej. 11:1-9) kini dipersatukan oleh Roh Kudus menjadi satu umat. Perbedaan bahasa yang semula mengasingkan  di antara manusia telah diubah oleh Roh Kudus menjadi media  komunikasi yang menyentuh setiap orang sesuai dengan situasi dan konteks hidupnya. Mereka tetap menggunakan bahasa yang berbeda-beda, tetapi dalam peristiwa Pentakosta mereka yang berbeda-beda itu dimampukan untuk  memperoleh pengertian yang sama tentang karya keselamatan Allah di dalam penebusan Kristus.  Secara sengaja dalam peristiwa Pentakosta, Roh Kudus bekerja melalui berbagai macam bahasa umat manusia. Sebab bahasa merupakan media komunikasi yang berkaitan langsung dengan alam pikiran, perasaan dan kehendak atau mental umat manusia. Bahkan bahasa dalam konteks tertentu bukan sekedar sebagai penghantar komunikasi. Bahasa juga merupakan ekspresi dari pikiran, perasaan dan kehendak manusia. Kita tidak dapat membayangkan suatu ekspresi pikiran tanpa melalui bahasa. Kalau seandainya seseorang bisu, minimal dia akan menggunakan bahasa tangan dan bahasa tubuh. Apapun bentuknya kita selalu mengkomunikasikan dan mengekspresikan seluruh pikiran, perasaan dan kehendak kita melalui bahasa. Sebab bahasa dalam pengertian yang khusus juga menunjuk wujud diri atau kepribadian kita. Bukankah seseorang yang berbudi halus dapat diketahui dari bahasa yang digunakan?  Demikian pula seorang yang bertemperamen kasar akan terlihat dari pilihan dan intonasi kata yang digunakan. Ungkapan diri dalam bahasa adalah juga ungkapan roh dan kepribadian kita.

    Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta menggunakan bahasa ibu dari masing-masing orang yang saat itu mendengar firman Tuhan tersebut. Sehingga setiap orang pada saat itu mampu mendengar firman Tuhan dalam bahasa ibu mereka. Dengan demikian Roh Kudus tidak hanya sekedar menyapa pengertian atau segi kognitif orang-orang yang mendengar berita yang disampaikan oleh para rasul. Tetapi juga Roh Kudus menyapa dan menyentuh hati atau perasaan dari mereka yang mendengar firman Tuhan tersebut. Sungguh,  Roh Kudus  dalam peristiwa Pentakosta berkenan menyapa dan menyentuh mental manusia yang terdalam. Karena itu dapat dimengerti Pekabaran Injil yang efektif dan menyentuh jikalau disampaikan dalam bahasa ibu dari umat yang mendengar. Kita dapat melihat alasan misionaris Ingwer Ludwig Nommensen yang terlebih dahulu mempelajari bahasa Batak seperti: bahasa   Silindung, Samosir, Humbang dan Toba sehingga dia  dapat mengkomunikasikan Injil yang mudah diterima dan menyentuh hati orang-orang Batak. Juga misionaris Matteo Ricci yang menjadi pionir pekabaran Injil di Peking. Mateo Ricci yang lahir di Macerata, Italia pada tanggal  6 Oktober 1552 dan tiba di Macao pada tahun 1583 dengan terlebih dahulu mempelajari bahasa Cina dan mengenakan kostum orang Cina. Para hamba Tuhan tersebut selalu memperhatikan bahasa dan budaya dari para penerima berita Injil. Sehingga sangatlah tepat jikalau Alkitab yang adalah firman Tuhan diterjemahkan ke dalam semua bahasa umat manusia. Mungkin  Alkitab adalah satu-satunya buku yang berhasil diterjemahkan ke dalam seluruh bahasa dan suku umat manusia di dunia.  Tujuannya adalah agar setiap orang dapat mendengar berita Injil dalam bahasa ibu mereka, sehingga seluruh aspek kepribadian mereka disentuh  dan diperbaharui oleh Roh Kudus.     

Bahasa Dalam Realitas Kehidupan
    Namun lingkup bahasa kini makin bertambah luas. Bahasa bukan sekedar varian bahasa yang digunakan oleh umat manusia menurut bahasa ibu. Tetapi juga bahasa kini telah digunakan secara khusus dan teknis dalam berbagai bidang disipilin ilmu. Kita mengenal penggunaan bahasa seperti: bahasa ekonomi, bahasa politik, bahasa hukum, bahasa ilmu pengetahuan, bahasa sastra, bahasa filsafat, bahasa psikologi, bahasa medis, dan sebagainya. Bagaimanakah sikap kita selaku gereja Tuhan? Apakah kita juga selalu berusaha mempelajari dan memahami setiap bahasa tersebut, sehingga kita dapat berkomunikasi secara  tepat dan  mendalam dalam berbagai bidang ilmu? Gereja tidak cukup hanya mampu menggunakan bahasa teologis atau bahasa iman untuk menyapa dan berkomunikasi dengan para pengguna bahasa tersebut. Tepatnya kita selaku gereja juga harus mampu berkomunikasi sesuai dengan pola pikir dan peristilahan yang digunakan dalam berbagai bahasa tersebut seperti bahasa ekonomi, bahasa politik, bahasa hukum, bahasa ilmu pengetahuan, bahasa sastra, bahasa filsafat, bahasa psikologi, dan bahasa medis. Tanpa memahami setiap bahasa dan pola pikir bidang ilmu tersebut kita akan menjadi orang yang asing bagi mereka. Sehingga kita tidak mampu memahami seluruh pergumulan yang mereka hadapi di bidang pekerjaan yang sedang mereka tekuni. Jadi “bahasa teologis” gereja tidak boleh menjadi bahasa asing dari orang-orang yang berlatar-belakang ekonomi, medis, hukum atau ilmiawan. Sebaliknya kita selaku gereja juga harus fasih untuk berdialog, menganalisis dan mendalami permasalahan sesuai dengan bahasa teknis dari setiap bidang profesi dan ilmu pengetahuan tersebut.  Tanpa penguasaan terhadap setiap bidang bahasa tersebut, kita tidak akan mampu menyampaikan berita Injil secara tepat. Karena kita hanya menggunakan pengertian dan paradigma yang tidak dikenal oleh mereka. Padahal karya Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta pada hakikatnya hadir untuk menyapa setiap orang sesuai dengan pengertian dan pemahamannya masing-masing.

Diinsafkan Melalui Konteks Hidup
    Sapaan dan sentuhan Roh Kudus yang menggunakan setiap bahasa yang berbeda-beda itu adalah bertujuan agar setiap orang menjadi insaf atau sadar. Pada mulanya setiap orang yang mendengar berita  Injil dari para rasul menjadi mengerti dan memahami  secara kognitif maksud firman Tuhan tersebut. Tetapi setelah itu Roh Kudus menghendaki agar mereka menjadi insaf, sehingga mereka bersedia untuk bertobat dan membaharui kehidupan mereka. Selama kita selaku gereja mengabaikan segi teknis bahasa yang dipergunakan oleh berbagai macam orang, maka kita akan mengalami kesulitan untuk membawa mereka kepada keinsafan. Sebab pembaharuan Roh Kudus adalah bertujuan untuk membaharui mentalitas dan spiritualitas umat manusia. Karena itu Tuhan Yesus berkata: “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh. 16:7-8).  Kehadiran Roh Kudus adalah untuk menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.  Roh Kudus menginsafkan akan dosa karena dunia tidak percaya dan menolak Kristus, menginsafkan akan kebenaran karena Kristus telah dipermuliakan Allah sebagai bukti ke-Messias-an dan Ke-Tuhan-anNya; dan menginsafkan akan penghakiman karena melalui kematian Kristus,  penguasa dunia ini telah ditaklukkan dan dihukum.

a. Makna dan Relevansi Roh Kudus Menginsafkan Akan Dosa
    Realita dosa merupakan bagian inti yang secara potensial dan fungsional merusak kehidupan umat manusia untuk menjauh dan menolak kasih-karunia Allah. Kuasa dosa yang terus-menerus mendorong manusia untuk menolak Kristus selaku Juru-selamat dan  melakukan apa yang jahat. Sehingga tidak dijamin seorang yang semula hidup dalam kasih-karunia Allah dan pengampunan Kristus akan selalu setia sampai akhir hidupnya. Contoh yang terjadi pada Lord Kenneth Clark seorang presenter televisi dalam program “Civilization” (peradaban). Dalam otobiorgrafinya, Clark mengisahkan pengalaman religiusnya yang telah menyaksikan kehadiran Allah dengan terang sinar ilahiNya. Dia begitu terpesona dalam perasaan damai-sejahtera yang luar-biasa. Tetapi bagaimana dengan akhir hidupnya? Ternyata Clark meninggal sebagai seorang yang tidak beriman. Dia terpengaruh oleh teman-teman dan orang-orang di sekelilingnya yang selalu berpesta pora secara liar. Keinsafan akan dosa tidaklah cukup hanya ditunjang oleh pengalaman religius yang luar-biasa. Bahkan sebenarnya lebih mudah bagi seorang yang semula tidak religius tetapi justru yang kemudian mau menyadari dosa-dosanya dengan hati hancur yang akan mampu menerima pembaharuan Roh Kudus.  Sikap seorang yang religius yang kemudian patah dan murtad di tengah jalan dapat dibandingkan dengan sikap orang berdosa yang bertobat. Seorang religius bertanya kepada orang berdosa yang baru bertobat: “Bagaimana caranya kamu bisa bertobat, padahal aku sering mengalami kesulitan untuk bertobat?” Jawab orang berdosa tersebut adalah: “Karena aku seorang yang berdosa, maka aku seperti seorang pengemis yang tidak memiliki baju baru. Begitu Tuhan menawarkan aku sebuah baju baru, maka aku segera menerimaNya dengan sukacita. Sebaliknya karena kamu merasa diri sangat rohaniah, maka kamu merasa memiliki banyak baju baru. Itu sebabnya ketika Tuhan menawarkan kamu sebuah baju baru, kamu menolak pemberian Tuhan tersebut karena kamu merasa telah memiliki   banyak baju baru.

b.  Makna dan Relevansi Roh Kudus Menginsafkan Akan Kebenaran
    Makna kebenaran Allah bukanlah seperangkap ajaran atau doktrin. Kebenaran Allah menyangkut manifestasi yang dinyatakan dalam kehidupan dan bersama dengan sesama. Karena itu makna “kebenaran” dipergunakan istilah “dikaiosune” (Yun.) dan kata “tsedeq” yang berarti keadilan dan juga sedekah. Kebenaran Allah harus dinyatakan dalam bentuk keadilan atau diamalkan sehingga  selalu terhayati dalam kenyataan hidup. Tepatnya kebenaran Allah akan menjadi kebenaran yang membebaskan jikalau dapat disaksikan dalam perilaku. Pemahat Jerman yang banyak berkiprah di Roma yaitu bernama Johann Heinrich von Dannecker (1758-1841) dikenal sebagai pemahat patung dewa-dewa Yunani. Namun pada suatu hari Dannecker insaf dan ingin mencurahkan seluruh tenaga dan keahliannya untuk memahat patung Kristus. Hasil karya Dannecker begitu indah, sehingga Napoleon Bonaparte menyuruh Dannecker untuk memahat patung dewa Venus. Jawaban Dannecker adalah: “Tangan yang pernah memahat Kristus ini tidak mungkin dapat lagi untuk membuat pahatan dewa kafir”.  Ketika seseorang insaf akan kebenaran Kristus, maka dia akan menolak untuk ambil bagian dalam perkara-perkara duniawi. Namun apakah kita juga konsisten untuk memberlakukan kebenaran Allah dalam kehidupan kita? Apakah kita mau menolak ajakan dunia untuk tidak jujur dalam mengelola keuangan perusahaan, menolak pemakaian zat-zat kimiawi yang berbahaya dalam pembuatan makanan atau minuman, menolak penjualan buku-buku atau gambar porno, dan sebagainya. Keinsafan akan kebenaran berarti kita secara sadar dan sengaja menolak untuk melakukan kompromi dengan kuasa dunia. Termasuk pula penolakan untuk menyangkal Kristus walaupun kita mendapat janji untuk memperoleh sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan.

c. Makna dan Relevansi Roh Kudus Menginsafkan Akan Penghakiman
    Setiap  orang yang melakukan kesalahan akan merasa dirinya terhukum. Apalagi saat seseorang yang bersalah menerima ganjaran berupa vonis akan kesalahannya. Dia akan mengalami suatu krisis yang hebat berupa perasaan depresi. Dikisahkan ada seorang wanita yang mendengar anak satu-satunya telah mendapat vonis mati karena begitu banyak dosa yang telah dia lakukan.  Dia datang kepada Hakim agar mengampuni anaknya tersebut. Tetapi Hakim tersebut menolak sambil menjelaskan semua kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat anaknya itu. Karena itu anak tersebut akan divonis besok pagi saat lonceng gereja berbunyi. Keesokan harinya anak tersebut siap untuk dihukum gantung sambil menunggu lonceng gereja berbunyi. Tetapi anehnya lonceng gereja tersebut sama sekali tidak berbunyi. Setelah 1 jam lewat tidak berbunyi, maka Hakim segera menyuruh para petugas untuk memeriksa atau mencari penyebab sehingga lonceng gereja tersebut tidak berfungsi. Setelah diamat-amati ternyata di tali lonceng gereja tersebut mengalir darah yang berasal dari lonceng di menara. Betapa terkejutnya ketika dijumpai mayat ibu dari anak yang akan dieksesi  itu sedang tergencet dalam lonceng. Ibu tersebut sengaja menaruh badannnya di lonceng gereja agar dia dapat membatalkan eksekusi mati bagi anaknya tersebut.  Sang ibu telah berkorban dengan kematiannya agar anaknya tersebut tetap selamat. Demikian pula karya Kristus yang membebaskan kita dari penghakiman Allah.  Itu sebabnya Roh Kudus hadir untuk menginsafkan dunia agar mereka menerima Kristus agar penghakiman yaitu murka Allah tidak menimpa diri mereka.

Keinsafan Diri Sebagai Penghiburan Roh Kudus
    Tema “Roh Kudus adalah Roh Penghibur” dapat menimbulkan pertanyaan yang kritis, yaitu: bagaimana peran Roh Kudus sebagai penghibur? Peran Roh Kudus sebagai penghibur justru dinyatakan dalam karyaNya yang mampu menginsafkan umat manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Penghiburan Roh Kudus pada hakikatnya identik dengan karyaNya yang mengisafkan manusia. Sebab saat kita diinsafkan atau disadarkan oleh Roh Kudus berarti mata rohani kita dicelikkan. Sehingga hati kita dapat mengalami pencerahan dan perubahan paradigma yang serba baru. Kita dimampukan oleh Allah untuk memandang realitas dengan pandangan  yang lebih luas, kreatif dan melegakan sebab hati kita telah dipenuhi oleh damai-sejahtera dan keselamatanNya. Bukankah keinsafan merupakan penghiburan yang paling bermakna? Saat kita insaf, maka sebenarnya kita tidak lagi membutuhkan hiburan (entertaiment) dari dunia ini. Jadi karya Roh Kudus yang utama adalah menyadarkan diri kita untuk mengalami pembaharuan hidup. Karya Roh Kudus tidak pernah mendorong kita untuk menikmati hiburan yang sifatnya hanya sementara.  Arti penghiburan khan tidak sama dengan hiburan. Tetapi bagaimanakah dengan kehidupan kita sehari-hari? Betapa sering kita masih haus akan hiburan. Itu sebabnya ukuran seluruh “kebahagiaan” pada  kini  sering mengalami distorsi sebab makna “kebahagiaan” hanya diukur oleh sejauh mana kita dapat memiliki fasilitas hiburan.  Itu sebabnya walau kita sedang mengalami krisis keuangan, tetapi mall dan plaza tidak pernah sepi. Walau pekerjaan susah tetapi banyak orang tetap mampu memasang berbagai “home theatre” yang lengkap. Tetapi apakah spiritualitas mereka bahagia? Betapa banyak di antara mereka yang merasa hidupnya serba hampa dan tanpa arti. Karena itu yang kita butuhkan sekarang adalah karunia Roh Kudus yang membuat kita semakin insaf sehingga kita  semakin mampu menyadari setiap kekurangan dan kelemahan kita. Manakala kita insaf, maka hati kita dicerahkan oleh kebahagiaan dan sukacita yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Bagaimanakah sikap saudara? Amin.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
www.yohanesbm.com
   
Last Updated ( Friday, 29 May 2009 )
 
< Prev   Next >
Google
 

Statistics

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1159
mod_vvisit_counterYesterday3648
mod_vvisit_counterThis week11355
mod_vvisit_counterThis month91540
mod_vvisit_counterAll2897208

Login Form

Weblinks

Yohanes B.M.   (2634 hits)
Firman Hidup 50   (2528 hits)
Firman Hidup 55   (2498 hits)
Cyber GKI   (2272 hits)
The Meaning of Worship   (2175 hits)
TextWeek   (1966 hits)
Contact YBM   (1928 hits)
More...

Weblinks

Advertisement

www.YohanesBM.com
:: Yohanes B.M Berteologi ::